Gubernur menyatakan akan menggunakan kewenangan dan tanggung jawabnya untuk membawa aspirasi masyarakat adat Manusela ke tingkat pemerintah pusat.
Ia berkomitmen memperjuangkan persoalan tersebut kepada kementerian, badan, dan lembaga terkait, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan Taman Nasional Manusela.
Baca Juga:
Tiga Jurus Gubsu Bobby Bangun Kepulauan Nias
“Saya menyampaikan kepada Basudara bahwa dalam batas-batas kewenangan, tugas dan tanggung jawab saya sebagai gubernur, saya akan memperjuangkan ini kepada pemerintah pusat, kepada badan, lembaga, kementerian terkait dengan masalah Taman Nasional Manusela, khususnya adat masyarakat adat di pegunungan Pulau Seram,” ucap Lewerissa.
Sikap tersebut menjadi penting karena penolakan masyarakat adat terkait persoalan batas kawasan telah muncul di sejumlah negeri di Seram Utara. Masyarakat Manusela sebelumnya mempersoalkan titik koordinat kawasan di wilayah Ilepa. Sementara masyarakat Maraina, Kaloa, Hatuolo, dan sejumlah komunitas lainnya juga menyuarakan keberatan terhadap batas kawasan yang dinilai mendekati atau memasuki ruang hidup mereka.
Persoalan tersebut kini membutuhkan komunikasi dan koordinasi lintas lembaga, bukan sekadar respons administratif. Di satu sisi, fungsi konservasi Taman Nasional Manusela harus tetap dijaga. Di sisi lain, keberadaan masyarakat adat beserta hak-hak tradisional mereka merupakan realitas sosial yang tidak dapat diabaikan dalam setiap kebijakan terkait ruang hidup di Pulau Seram.
Baca Juga:
Gubsu Bobby Berkantor di Nias, Besok Tinjau Pelabuhan Roro dan SMAN Unggulan Sukma Gunungsitoli
Momentum HUT ke-81 Provinsi Maluku akhirnya tidak hanya menjadi perayaan administratif dan simbolik. Surat yang dibawa dari Manusela dalam sebuah bambu menghadirkan kembali pesan tentang relasi antara negara, konservasi, dan masyarakat adat.
Komitmen gubernur untuk membawa aspirasi tersebut ke pemerintah pusat kini akan diuji melalui langkah konkret berikutnya: memastikan perlindungan kawasan konservasi tetap berjalan tanpa mengorbankan hak masyarakat adat yang telah hidup dan mengelola wilayah tersebut secara turun-temurun.
“Terima kasih Topan dan dukung saya. Itu yang harus saya sampaikan kepada Basudara semua. Tetap semangat. Merdeka,” tutup Lewerissa.