Ia kemudian mengangkat kembali falsafah lokal Maluku, “Potong di kuku, rasa di daging.” Bagi Ikram, ungkapan tersebut bukan sekadar warisan budaya, tetapi pijakan moral agar penderitaan seorang warga menjadi kepedulian bersama.
Pesan itu diterjemahkan Pemda Buru melalui bantuan langsung kepada keluarga terdampak. Pemerintah, kata Ikram, harus hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga ketika warga menghadapi situasi paling sulit.
Baca Juga:
Dampingi Wagub Rano Tinjau Korban Kebakaran Pasar Jiung, Wali Kota Arifin Pastikan Kebutuhan Pengungsi Terpenuhi
Kunjungan tersebut memperlihatkan dua sisi agenda pemerintahan: membenahi pelayanan dasar sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Di Puskesmas Waikasar, pemerintah memetakan kebutuhan berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Di Wanakarta, pemerintah menunjukkan respons cepat terhadap warga yang tertimpa musibah.
Bagi Pemda Buru, keduanya bermuara pada hal yang sama: memastikan kehadiran pemerintah terasa dalam kebutuhan sehari-hari masyarakat. (YL-W)